Alternatif Observasi Biaya Murah dengan VO

0
217
Mendalami Ilmu Astronomi (Foto : Istimewa)

Jakarta, X-File.id – Astronomi sering kali masih dianggap sebagai salah satu pengetahuan yang berbiaya mahal. Tak jarang, banyak sekolah yang tidak memiliki fasilitas teleskop, karena menganggap Bahwa teleskop bukanlah bagian dari peralatan laboratorium dan harganya mahal. Tapi kini, masalah tersebut bisa diatasi dengan Virtual Observatory.

Virtual Observatory (VO) adalah kumpulan data archives dan software yang memungkinkan untuk dipergunakan dalam suatu penelitian saintifik, yang salah satunya adalah astronomi.

Tujuan VO adalah untuk mendistribusikan data terkait bidang tertentu,  sehingga bisa diakses oleh peneliti di seluruh dunia tanpa batasan jarak dan waktu.

Kepala UPT Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Hakim Luthfi Malasan menyebutkan dalam astronomi kita membutuhkan teleskop. Dengan VO kehadiran teleskop bisa digantikan dengan oleh kumpulan data astronomi yang terangkum dalam suatu sistem software, yang memiliki kemampuan pencitraan yang sama.

“Virtual Observatory sangat mungkin diterapkan di Indonesia. Infrastruktur jaringan di Indonesia sudah memadai untuk berkegiatan dengan VO. VO yang dimaksud disini adalah mengakses basis data besar dan melakukan pengolahan data, pengembangan pendidikan dan riset,” kata Hakim saat dihubungi, Kamis (31/10).

Hakim menyebutkan bahwa tidak ada syarat khusus dalam mengakses VO. Yang penting adalah memiliki koneksi ke jejaring global.

“Dengan infrasruktur yang sudah dikembangkan, misalnya proyek besar “telkomsel goes to schools” juga sudah bisa. Tidak ada syarat yang sifatnya politis karena tidak ada diskriminasi dalam VO. Malah banyak insentif VO yang bisa diperoleh.  Misalnya mengundang astronomi profesional berkunjunga ke sekolah memberi workshop tentang VO kepada guru-guru,” ujar Hakim.

Ia menambahkan bahwa peralatan yang dibutuhkan minimal laptop dan koneksi ke jejaring.

“Kalau punya jaringan sendiri bagus sekali. Kalau ada server lokal, LCD dan clients malah bisa kembangkan laboratory course dengan VO,” ucapnya lebih lanjut.

Hakim menyatakan bahwa sebenarnya saat ini pembelajaran Astronomi tidak lah mahal lagi.

“Teleskop kecil lebih murah dari harga Laptop. Persoalannya adalah guru yang qualified utk mengajar Astronomi yang tidak ada. Generasi muda amat menggandrungi kedirgantaraan. Buktinya Prodi Sains Atmosfer dan Keplanetan di ITERA ketika pertama pada tahun 2018 dibuka, diminati hampir 400 siswa, yang diterima 89. Tahun kedua terima 110 mahasiswa baru. Olimpiade Astronomi juga semakin diminati,” paparnya.

Kepala UPT Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Hakim Luthfi Malasan (kanan berbaju Batik) (Foto ; Doel)

Ia menjelaskan bahwa isu pendidikan menengah astronomi yang kurang bukan karena mahal, tapi sedikit sekali bahkan hampir tidak ada guru yang mau berkomitmen mengajarkan itu ke siswa.

“Pembelajaran astronomi dan astrofisika paling tepat dilakukan oleh guru fisika. Astronomi itu natural science bukan social science. Banyak guru fisika yang enggan karena merasa beban materi fisika saja sudah berat. Padahal di Jepang contohnya, guru astronomi ya guru fisika,” ungkapnya.

Menurutnya, kurikulum Fisika di Indonesia sudah terlalu padat. Jadi hanya guru yang secara mandiri mengembangkan diri dan berorientasi sains kuat saja yang bisa mengembangkan astronomi via ekstra kurikuler di sekolah-sekolah.

“Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan harus lebih proaktif lagi memberi bimtek kepada guru guru. Saya pernah beberapa kali jadi narasumber, tapi yang selalu modelnya kegiatan yang insidentil dan tidak sustain. Peserta juga pilihan yang ternyata tidak eligible. Misalnya guru geografi disuruh ikut, guru TIK disuruh ikut, padahal yang diperlukan guru fisika. Banyak salah sasarannya,” pungkasnya.(Pyf/Red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here