BATAN Sayangkan Indonesia Masih Import Kedelai

162
BATAN hingga akhir Desember 2020 sudah mengeluarkan 14 varietas unggul kedelai.(Foto : Istimewa)

Purwakarta, X-File.id – Kedelai merupakan bahan baku utama tahu dan tempe. Dua jenis makanan yang dianggap sebagai penyumbang protein dengan harga murah dan mampu dijangkau masyarakat sebagai pemenuh gizi harian. Tapi sayangnya, hingga kini, kebutuhan kedelai dalam negeri masih diimpor dan terus meningkat tiap tahunnya. Padahal target swasembada kedelai terus dicanangkan setiap tahunnya.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Anhar Riza Antariksawan sangat menyayangkan Indonesia hingga saat ini masih membutuhkan pasokan dari negara lain dalam hal pemenuhan kedelai.

“Target swasembada kedelai dilakukan setiap tahunnya. Tapi sepertinya tidak ada perubahan sama sekali,” kata Anhar saat dihubungi, Senin (18/1).

Ia menyebutkan, berdasarkan data BPS, impor kedelai Indonesia pada semester I tahun 2020 mencapai 1,27 ton atau setara dengan 510,2 juta Dollar Amerika. Dan sebagian besar berasal dari Amerika Serikat.

Dan selama 10 tahun terakhir, impor kedelai terus meningkat sekitar 2-7 kali lipat dibandingkan produksi kedelai dalam negeri. Nota keuangan tahun anggaran 2021, menunjukkan pemerintah menargetkan produksi kedelai adalah 420 ribu ton. Sementara kebutuhan Indonesia adalah 2,8 juta ton.

“Masalah kedelai ini bukan hanya pada bibit yang cocok pada lahan di Indonesia dan bukan hanya pada kebutuhan produksi kedelai berbiji besar. Tapi lebih kepada kebijakan yang menyeluruh dan menyentuh pada kebutuhan petani kedelai,” kata Anhar.

Contohnya, dalam hal keengganan petani untuk menanam kedelai, walaupun potensi kedelai sebagai tanaman sela pada lahan padi seharusnya mampu memberikan pasokan jumlah yang signifikan.

“Biasanya kedelai itu kan dijadikan sebagai tanaman sela saat waktu keda tanaman padi. Sehingga hanya panen sekali setahun dengan efektivitas panen sekitar 1,44 ton per hektar. Tapi kalau semua luasan lahan padi yang sekitar 7 juta hektar ini menanam kedelai sebagai tanaman sela, coba saja hitung jumlahnya. Tapi banyak petani yang gak mau. Karena harganya tidak bisa bersaing dengan kedelai import,” kata Anhar tegas.

Ia menyebutkan, jika yang menjadi kendala pemerintah untuk membuat kebijakan yang ramah bagi petani kedelai domestik adalah WTO, maka seharusnya dibuat suatu kebijakan yang langsung menyasar ke petani.

“Apakah dari sisi pupuk atau melakukan pembelian langsung pada petani. Atau kenapa program food estate itu tidak menyasar kedelai juga?,” ujarnya lebih lanjut.

BATAN sendiri, ungkapnya, masih terus melanjutkan penelitian terkait bibit unggul dengan menggunakan teknologi nuklir.

“Saat ini sudah ada 14 varietas unggul kedelai hasil penelitian BATAN. Unggul baik pada kecocokan penanaman di lahan apa pun, biji yang kecil maupun besar sesuai kebutuhan pelaku industri, rasa yang enak dan kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan kedelai impor. Dan saat ini, kami juga sedang melakukan penelitian terkait bibit kedelai yang bisa bertumbuh di naungan. Sehingga, lahan di seputar hutan jati atau pohon perkebunan yang tinggi bisa menjadi lokasi alternatif penanaman kedelai,” ucapnya.

Sementara di bagian hilir, BATAN sudah membangun linkage dengan perusahaan tempe dan IAEA untuk membantu penyaluran kedelai hasil penelitian.

“Salah satunya, edukasi pengolahan kedelai untuk dijadikan tempe. Juga mengarahkan penggunaan kedelai hitam, Mutiara 1 dan 2 sebagai bahan baku kecap,” pungkasnya.(Prt/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here