Beratnya Pengasuhan Anak di Masa Pandemi

427
Belajar di rumah dan membatasi aktivitas anak selama masa Pandemi, ternyata mendorong potensi anak mendapatkan tindak kekerasan dari orang tua atau kerabat lainnya yang tinggal serumah. (Foto : Istimewa)

Bandung,  X-File.id – Masa pandemi COVID 19 yang mewajibkan anak-anak untuk belajar di rumah dan membatasi aktivitas mereka, ternyata mendorong potensi anak mendapatkan tindak kekerasan dari orang tua atau kerabat lainnya yang tinggal serumah.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Bintang Puspayoga menyatakan pengasuhan anak di masa pandemi menjadi lebih berat, karena orang tua harus menjalankan peran ganda.

“Dalam masa pandemi, anak menjadi rentan. Karena orang tua memiliki beban ganda. Selain mendidik dan mendampingi anak tapi juga harus tetap bekerja dari rumah,” kata Bintang saat dihubungi, Kamis (23/7).

Kondisi ini lah, yang menyebabkan anak berpotensi mendapatkan tindak kekerasan fisik.

“Berdasarkan data SIMFONI,  ada 3.928 kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan sejak Januari hingga Juli 2020 ini,” ungkapnya.

Staf Divisi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Dr. dr.  Meita Damayanti,  SpA(K),  M.Kes, menyebutkan ada perbedaan antara gaya hidup sebelum dan sewaktu pandemi.

“Sama-sama berkumpul tapi memiliki situasi yang berbeda. Kalau sebelum pandemi, berkumpul itu senang, untuk bermain, pokoknya happy. Kalau saat pandemi, berkumpul menjadi suatu keharusan dan tidak boleh keluar rumah, hanya berada dalam ruangan tertutup saja,” kata Meita dalam kesempatan terpisah.

Tekanan yang terjadi, berupa kejenuhan anak, gesekan waktu bekerja orang tua dengan waktu mengasuh anak dan penurunan kemampuan ekonomi meningkatkan risiko orang tua untuk melakukan tindak kekerasan pada anak.

“Dari kondisi ini lah, orang tua perlu kembali menelaah pola asuh yang tepat bagi anak di masa pandemi ini. Karena anak membutuhkan lingkungan yang sesuai dalam proses tumbuh kembangnya,” urainya.

Ia menekankan bahwa disiplin tidak bisa dijadikan alasan bagi orang tua untuk melakukan kekerasan fisik atau mental pada anak.

“Kesal atau capek orang tua tidak bisa dijadikan alasan untuk bersuara keras,  membentak, mencubit atau memukul anak,” kata Meita tegas.

Dalam mengasuh anak, lanjutnya, setiap orang tua harus memahami bahwa tidak menerima kekerasan fisik dan psikis adalah hak setiap anak.

“Orang tua juga harus menghargai kemampuan anak, memahami karakteristik anak, menumbuhkan partisipasi anak dalam kegiatan yang dilakukan dan menghargai martabat anak sebagai bentuk penerimaan hak pada anak,” ucapnya.

Sehingga, dalam mengasuh selama masa pandemi ini, setiap orang tua harus berpatokan pada hak anak tersebut.

“Jadi caranya bagaimana? Langkah waktu untuk anak dan tanyakan pada mereka apa yang ingin mereka lakukan. Susun jadwal bersama, sehingga anak bisa memahami kapan waktu untuk bermain dan belajar serta kapan orang tua membutuhkan waktu sendiri untuk bekerja,”  urainya.

Libatkan anak dan beri tanggung jawab ke anak dengan tetap mengedepankan pola asuh otoritatif.

“Jadi sistemnya tarik ulur dalam mendisiplinkan anak. Ada batasan dan kendali pada orang tua. Tapi tetap dalam koridor mendorong mereka untuk mandiri. Yang paling penting disesuaikan dengan umur mereka dan tidak boleh ada kekerasan sama sekali,” pungkasnya. (Dln/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here