Bermasalah Dengan Gigi? Lakukan Ini

324
Masalah Gigi
72,3 persen penduduk Indonesia memiliki karies gigi yang berpotensi menjadi sakit gigi jika tidak dilakukan perawatan. (Photo : Dental)

Tangerang, X-File.id – Mayoritas masyarakat cenderung menghindar untuk berurusan dengan dokter gigi. Tapi, jika sudah muncul beberapa gejala sakit gigi yang lama dan mengganggu, maka sudah saatnya untuk berkonsultasi dengan pihak yang kompeten.

Kepala Departemen Konservasi Gigi, FKG Universitas Prof. Dr. Moestopo (UPDM) Jakarta, Dr. drg. Rina Permatasari, SpKG, menjelaskan bahwa sakit gigi merupakan sensasi nyeri yang berasal dari gigi atau jaringan sekitarnya yang dapat menyerang siapa saja tanpa memandang umur maupun jenis kelamin.

“Sakit gigi ringan yang berasal dari iritasi gusi bisa ditangani sendiri di rumah. Tapi jika sakitnya tak kunjung mereda karena adanya masalah pada gigi dan mulut maka dibutuhkan campur tangan seorang dokter gigi,” kata drg. Rina saat dihubungi, Jumat (21/5/2021).

Ia menyebutkan gigi adalah bagian tubuh yang unik. Karena gigi itu memiliki jaringan saraf di bagian bawahnya, layaknya pohon yang memiliki akar dan membutuhkan tempat bertumbuh yang baik.

“Sekaligus, gigi itu memiliki jaringan lunak yang didalamnya berisi pulpa atau saraf gigi. Nah jaringan pulpa ini merupakan bagian yang sangat sensitif dan jika mengalami iritasi atau infeksi akan menyebabkan rasa sakit yang sangat parah. Bahkan tak jarang, pasien yang merasakan sakit akan datang ke UGD suatu rumah sakit,” ucapnya.

Faktanya, 72,3 persen penduduk Indonesia memiliki karies gigi yang berpotensi menjadi sakit gigi jika tidak dilakukan perawatan.

“Dan rasa sakit ini lah alasan utama yang mendorong masyarakat untuk datang ke dokter gigi. Jadi datang bukan untuk mencegah gigi berlubang tapi datangnya saat sudah bolong giginya,” ucapnya lebih lanjut.

Penyebab timbulnya rasa sakit pada gigi bisa beragam. Yaitu, paparan panas atau dingin berlebih pada gigi, terutama yang sensitif, radang gusi, karang atau lubang gigi, infeksi sinusitis, abses di sekitar mulut hingga gigi retak.

“Rasa sakit yang berkaitan dengan gigi atau mulut ada banyak. Bisa berupa sakit yang tajam atau tumpul, berdenyut, spontan, berlangsung lama atau sebentar bahkan bisa hilang dan timbul,” kata Spesialis Konservasi Gigi, RS Pondok Indah ini.

Rasa sakit lainnya, bisa berupa sensitivitas saat mengkonsumsi makanan atau minuman yang terlalu dingin atau manis.

“Atau bisa juga, saat gigi ditekan ada perasaan tidak nyaman, adanya pembengkakan pada gusi dan atau wajah akibat adanya infeksi, terganggunya tidur malam hingga munculnya demam atau sakit kepala,” ujarnya.

drg Rina menyebutkan ada beberapa hal yang bisa dijadikan patokan untuk masyarakat datang ke dokter gigi.

“Saat sakit gigi tak kunjung hilang setelah dua hari, walaupun sudah berkumur dengan air garam atau meminum obat pereda nyeri, bisa menjadi sinyal untuk berobat ke dokter gigi,” katanya.

Atau sakit yang dirasakan sudah membuat tidak bisa tidur dan mengganggu aktivitas.

“Apalagi jika sudah disertai demam, nyeri saat menggigit, gusi merah dan berdarah atau jika terjadi pembengkakan pada pipi di area mulut hingga mata,” tuturnya.

Ia menegaskan tak perlu takut untuk datang ke dokter gigi, walaupun sedang ada pembatasan sosial pada kondisi pandemi saat ini.

“Dengan adanya perkembangan teknologi, rasa ngilu yang terjadi saat pembersihan area gigi sekarang sudah bisa diturunkan. Dan jangan takut tertular COVID 19 juga. Karena protokol kesehatan pasti diterapkan oleh para dokter gigi, ditambah ada beberapa fasilitas di ruang praktik dokter gigi yang menurunkan tingkat penularan,” pungkasnya.(Bpg/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here