Kapan Pengapuran Sendi Terjadi? Ini dia Gejalanya

191
Osteoarthritis atau pengapuran sendi adalah proses degeneratif akibat penuaan yang mengganggu sendi dan bisa menyerang semua sendi pada tubuh. Tapi kasus terbanyak adalah pada lutut dan panggul.(Photo : Istimewa)

Subang, X-File.id – Gangguan fungsi sehari-hari yang sering dialami para lansia adalah nyeri lutut, yang dikeluhkan oleh 70 persen dari seluruh pasien di Poli geriatri. Jika ini terjadi, maka yang bisa dilakukan hanyalah menjaga agar nyerinya tidak muncul dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Ahli Rehab dr. Nelfidayani, SpKFR menjelaskan osteoarthritis atau pengapuran sendi adalah proses degeneratif akibat penuaan yang mengganggu sendi dan bisa menyerang semua sendi pada tubuh. Tapi kasus terbanyak adalah pada lutut dan panggul.

“Kondisi ini tidak dapat disembuhkan tetapi gejalanya dapat dikontrol. Sehingga para lansia atau pasien yang mengeluhkan nyeri lutut tetap dapat melakukan aktivitas tanpa terganggu oleh rasa nyeri,” kata Nelfidayani dalam acara online kesehatan yang diikuti X-File.id, Jumat (19/2/2021).

Untuk menjaga agar tidak timbul rasa nyeri pada sendi, ia menyebutkan penting untuk mengetahui faktor risiko apa yang menimbulkannya.

“Risiko pertama adalah pada wanita, terutama pasca menopause. Dimana berkurangnya hormon akan mengganggu kinerja sendi,” paparnya.

Risiko kedua adalah obesitas. Karena dengan berat badan yang bertumpu pada sendi semakin besar, maka kerusakan pada sendi semakin besar.

Risiko ketiga adalah pada orang yang pernah mengalami cedera atau trauma pada sendi lutut. Dan, risiko keempat adalah pada orang yang sering mengalami tekanan berulang pada sendi lutut, misalnya karena olahraga atau aktivitas sehari-hari.

Osteoarthritis memiliki derajat dari 1 hingga 4. Dimana satu adalah tahap awal dan 4 adalah yang terberat. Kita tidak bisa menurunkan derajat yang sudah terjadi. Hanya bisa mencegah perubahan derajat tidak berlangsung lebih cepat,” paparnya lebih lanjut.

Nelfidayani menjelaskan gejala osteoarthritis bisa dikenali dengan adanya nyeri sendi, kekakuan sendi lebih kurang 30 menit di pagi hari,  kelemahan otot sekitar sendi dan timbulnya bunyi sendi saat digerakkan.

“Karena rasa sakit ini, akibatnya banyak dari para lansia yang mengalami imobilisasi atau tidak mau bergerak karena takut merasakan nyeri. Sehingga menyebabkan kelemahan otot dan akhirnya semakin tidak mampu membantu menopang tubuh yang berujung pada nyeri yang semakin tinggi derajatnya,” ujarnya.

Seperti diketahui, pergerakan adalah cara menjaga kebugaran dari para lansia. Baik otot maupun jantung dan paru.

“Penanganan yang tepat akan memperlambat penurunan fungsi sendi dan menghilangkan potensi timbulnya rasa nyeri sehingga lansia bisa tetap melakukan aktivitas. Tentu saja, potensi terbebas dari rasa nyeri ini bergantung pada kerusakan sendi yang sudah terjadi, kondisi otot dan aktivitas pasien sehari-hari,” ujarnya lagi

Untuk menghindari timbulnya nyeri, para pasien dengan nyeri sendi atau para lansia dapat melakukan beberapa tindakan, yang sesuai dengan diagnosa tim medis yang menangani.

“Proteksi sendi, bisa dilakukan bukan hanya oleh yang sudah merasakan nyeri tapi juga pada orang yang belum merasakan. Seperti, mengurangi kegiatan yang membebani sendi secara berulang. Misal, kalau lansia tidurnya jangan di lantai dua, supaya menghindari naik turun tangga terlalu sering,” ucapnya.

Atau mengganti toilet jongkok menjadi toilet duduk untuk menghindari beban pada sendi lutut, saat gerakan dari jongkok ke berdiri.

“Menjaga life style itu juga merupakan proteksi. Dengan tetap menjaga berat badan ideal maka beban pada sendi akan berkurang jauh, dibandingkan jika pada berat badan berlebih,” tuturnya.

Tapi jika sudah dalam derajat yang lebih berat, ia menyebutkan biasanya akan ada alat bantu yang dapat digunakan saat beraktivitas atau membantu pergerakan pasien atau lansia.

“Yaitu modalitas fisik, seperti laser dan ESWT, alat bantu jalan baik single cane maupun walker, orthosis yang berupa modifikasi sepatu, wedges insole maupun knee brace dan latihan,” kata Nelfidayani.

Latihan ini, dibagi menjadi dua, yaitu Land Base Exercise dan Hydrotherapy.

“Untuk land base, itu bisa berbasis di rumah sakit, artinya dalam pantauan tenaga ahli atau berbasis komunitas, yaitu yang dilakukan secara bersama-sama untuk menjaga kebugaran dan kondisi sendi,” pungkasnya.(Ptb/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here