Kurang Asupan Gizi Sebabkan Menurunnya Kualitas Anak

349
Potensi Anak stunting akan memperbesar risiko menurunnya kualitas anak, baik dari segi pertumbuhan otak dan risiko terpapar penyakit. (Foto : Istimewa)

Purwakarta, X-File.id – Menurunnya tingkat daya beli masyarakat pada makanan yang bergizi membuat potensi bayi stunting semakin besar. Dan hal ini akan memperbesar risiko menurunnya kualitas anak, baik dari segi pertumbuhan otak dan risiko terpapar penyakit.

Spesialis Anak Dr. dr. Wan Nendra, SpA, menyebutkan stunting merupakan suatu kondisi anak tidak mencapai tinggi badan yang standar sebagai akibat kurangnya asupan gizi seimbang di masa awal kehidupannya.

“Stunting ini berkaitan dengan tinggi anak atau panjang bayi, yang dibandingkan dengan standar kurva pertumbuhan. Jika terjadi stunting maka akan mempengaruhi tingkat kecerdasan anak dan meningkatkan potensi terpapar penyakit degeneratif,” kata Wan Nendra dalam talkshow online tentang stunting, Jumat (18/12).

Ia menyebutkan kondisi stunting bisa didapatkan sejak bayi berada dalam kandungan atau saat setelah dilahirkan.

“Ibu yang anemia atau kekurangan gizi saat hamil bisa menyebabkan anak stunting. Sehingga penting untuk menjaga kualitas gizi ibu hamil. Bahkan sebelum seorang ibu hamil, tapi sudah merencanakan kehamilan sudah harus dijaga,” ujarnya.

Atau dalam kasus ibu yang mengalami hipertensi, bayi yang dilahirkan akan cenderung BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) yang mampu meningkatkan risiko stunting dua kali lebih tinggi dibandingkan bayi normal.

“Produksi ASI juga harus dijaga. Karena kurangnya asupan ASI hisa menyebabkan anak stunting. Begitu pula saat empat bulan, harus dievaluasi kondisi tinggi atau panjang bayi. Dan dilanjutkan saat anak berusia enam bulan,” papar Wan Nendra.

Wan Nendra menyebutkan ada dua dampak yang bisa terjadi jika anak mengalami stunting.

“Stunting berdampak pada pertumbuhan otak anak. Dimana pertumbuhannya tidak sebaik anak yang tidak mengalami stunting. Hal iji disebabkan kurangnya protein, yang kaitannya dengan pertumbuhan serabut otak,” ucapnya.

Berdasarkan penelitian, ia menyebutkan 20-30 persen anak yang stunting itu ditemukan sejak kelahiran. Dan 80 persennya berkaitan dengan asupan gizi pada masa emas anak.

“Dampak kedua, anak stunting cenderung obesitas. Yang pada akhirnya, meningkatkan risiko terpapar penyakit degeneratif. Misalnya, diabetes tipe 2,” ucapnya lebih lanjut.

Untuk mencegah stunting yang terjadi setelah kelahiran, ia menyebutkan pentingnya peranan orang tua dalam memantau dan mendeteksi tumbuh kembang anak yang tidak sesuai dengan kurva pertumbuhan dalam waktu sedini mungkin.

“Kalau terdeteksi kecenderungan tidak naik sesuai kurva, harus secepatnya berkonsultasi. Nanti akan dilakukan tes, baik pada darah, urine maupun feses. Untuk dilihat apakah ada infeksi. Kalau memang ada, ya harus kita obati dulu infeksinya,” paparnya.

Atau kita akan cek masalah absorpsi atau penyerapan makanan di saluran pencernaannya atau akan dicek juga apakah anak tersebut anemia atau tidak.

“Akan dilakukan terapi sesuai diagnosa. Dan harus dilakukan secepat mungkin untuk menghindari timbulnya gangguan pada otak,” pungkasnya.(Ppc/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here