Lima Skema Pembentukan Anak Unggulan

0
223

Jakarta, X-File.id – Menciptakan generasi muda Indonesia yang unggul membutuhkan anak Indonesia yang unggul. Bukan hanya dari segi pemenuhan gizi seimbang tapi juga melibatkan proses interaksi positif dan berkelanjutan dengan orang tua.

Pakar Tumbuh Kembang Anak Prof. DR. dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi menyebutkan pencapaian target generasi unggulan membutuhkan kerja interaktif dari suatu lembaga keluarga.

“Yang harus dipahami, pembentukan anak unggulan dalam rangka menciptakan generasi unggulan itu bukan hanya dari makanan bergizi saja,” kata Soedjatmiko saat Diskusi Stunting dan Gizi Buruk oleh Dompet Dhuafa di Hotel 88 Tendean Jakarta, Jumat (1/11).

Ia menjelaskan bahwa pemenuhan gizi seimbang secara cukup hanyalah satu bagian dari lima skema pembentukan anak unggulan.

“Sarapan pagi untuk anak itu penting. Bagaimana dia mampu belajar, mampu membuat otaknya berfikir jika asupan untuk otaknya tidak ada,” ucapnya.

Bagian kedua dari skema, menurut Soedjatmiko, adalah melindungi anak dari penderitaan akibat infeksi,  kekerasan dan eksploitasi.

“Melindungi dari infeksi, artinya imunisasi harus lengkap. Jangan melakukan tindak kekerasan pada anak. Menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan. Juga hindari paparan zat berbahaya. Misalnya rokok,” urainya.

Jika makanan bergizi dan perlindungan sudah diberikan, maka yang selanjutnya adalah stimulasi dan kasih sayang yang diberikan setiap hari.

“Anak itu butuh stimulus. Rangsangan. Bisa dengan memberikan contoh, melibatkan anak dalam kegiatan orang tua. Bermain bersama. Jangan hanya sibuk dengan gadget sendiri. Gadget itubisa digunakan dalam interaksi positif, artinya sebagai orang tua bijak menggunakan teknologi, yaitu untuk memberikan edukasi. Jangan sibuk sendiri,” kata Soedjatmiko tegas.

Kalau tiga skema itu sudah dilakukan, maka orang tua harus secara aktif melakukan pemantauan pada pertumbuhan dan perkembangan anak.

“Orang tua tidak usah bingung bagaimana melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan ini. Semuanya ada di buku KIA. Masalahnya, gak semua orang tua mau baca. Buku KIA-nya rapih tersimpan, gak dibuka,” ujar Soedjatmiko lebih lanjut.

Dengan melakukan kelima skema ini, harapannya anak Indonesia unggulan akan tercipta.

“Bukan hanya anak yang secara fisik sehat karena gizinya terpenuhi, tapi juga anak yang kreatif dan inovatif. Karena stimulus-nya tepat,” pungkasnya.(Bxt/Red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here