Menristek : Fenomena Bukan Prediksi Bencana Akan Terjadi

500
Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro mengungkapkan suatu kajian ilmiah atas suatu fenomena bukanlah suatu bentuk prediksi kapan bencana tersebut akan terjadi (Photo : Istimewa)

Cirebon, X-File.id – Riuhnya tanggapan masyarakat, kalau tidak mau disebut panik, atas publikasi hasil kajian ilmiah megathrust, mendorong Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN menghimbau kepada para media untuk lebih proporsional dalam menyampaikan hasil kajian ilmiah.

“Mohon bisa disampaikan kepada masyarakat bahwa belum ada metodologi atau pendekatan untuk memprediksi gempa. Karena prediksi gempa ini berbeda dengan prediksi ekonomi yang hanya menyebutkan persentase. Dalam memprediksi gempa ada banyak parameter yang terlibat. Jadi intinya jangan membuat panik,” kata Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro saat vicon, Rabu (30/9).

Ia menyampaikan bahwa suatu kajian ilmiah atas suatu fenomena bukanlah suatu bentuk prediksi kapan bencana tersebut akan terjadi.

“Tapi lebih kepada suatu upaya membangun suatu mitigasi bencana dan mempersiapkan kebijakan pembangunan yang berbasis pada hasil kajian tersebut,” ujarnya.

Bambang terus menekankan agar masyarakat tidak panik akan potensi gempanya, tapi lebih melihatnya sebagai suatu upaya untuk membangun kesiapsiagaan optimal dalam menghadapi bencana, baik alam maupun hidrometeorologi.

“Indonesia adalah wilayah ring of fire, yang artinya kita memang daerah yang memiliki potensi bencana. Kesadaran ini sebaiknya diarahkan untuk melakukan penelitian maupun kajian dalam rangka menyusun suatu mitigasi bencana yang baik,” ucapnya lebih lanjut.

Bambang menyebutkan Kemristek/ BRIN terus mendorong penelitian terkait bencana dan mengedepankan inovasi teknologi untuk mitigasi.

“Bukan hanya dengan teknologi deteksi bencana atau peringatan dini tapi juga mengembangkan teknologi untuk sistem evakuasi dan protokol keselamatan saat terjadi bencana melalui teknologi informasi,” ucapnya.

Fokusnya, lanjut Bambang, ada dua yaitu riset tentang kebencanaan itu sendiri dan riset sesar aktif di Jawa dan wilayah Indonesia lainnya.

“Fokus kedua adalah mitigasi bencana dengan memaksimalkan aspek teknologi, seperti yang dilakukan BPPT dengan pemasangan BUOY dan Cable untuk peringatan dini,” ujarnya.

Kajian potensi bencana ini memang akan mendorong pembangunan yang ekstra hati-hati karena pemerintah sangat menghindari terjadinya ekspos bencana pada penduduk.

“Untuk menjaganya, dilakukan mitigasi secara ketat yang diikuti dengan kebijakan yang ekstra protektif,” ujar Bambang lagi.

Ia juga mendorong adanya komunikasi publik yang baik antara peneliti dengan masyarakat.Karena membangun suatu kesadaran dan kesiapsiagaan akan bencana membutuhkan pengetahuan, kearifan lokal dan penelitian saintifik.

“Sehingga dengan knowledge yang lengkap, kita tidak akan abai dan membangkitkan kesadaran dalam mengantisipasi bencana. Kita tidak lari dari bencana, tidak abai akan potensi bencana tapi menghadapi bencana dengan kesiapan berbasis teknologi,” pungkasnya.(Pot/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here