Paduan Risol & Kikil Mantapkan Rasa Soto Mie Gandoang

517
Soto Mie Bogor Gandoang
Penjual soto mie bogor di wilayah Gandoang, menyebutkan kekuatan soto mie ada pada bumbu kuah yang harus menyatu dengan kikil dan risol.(Photo : Muz)

Bogor, X-File.id – Perbedaan dari soto pada umumnya yang berkuah bening atau santan, soto mie bogor atau terkadang disebut soto mie saja adalah kuahnya yang berwarna merah. Warna merah karena penggunan cabai merah pada kuahnya bercampur apik dengan mie kuning dan kol yang berwarna putih.

Deden, penjual soto mie bogor di wilayah Gandoang, menyebutkan kekuatan soto mie ada pada bumbu kuah yang harus menyatu dengan kikil dan risol.

“Untuk membuat kuahnya, selain menggunakan tulang juga menggunakan sandung lamur. Jangan pakai gajih karena akan mengurangi kejernihan kuah,” kata Deden sambil melayani pembeli di lapak sotonya, Gandoang Cileungsi Bogor Timur, Sabtu (29/5/2021).

Ia menyebutkan campuran soto mie itu semuanya sama. Yang membedakan hanya keempukan kikil atau daging. Dan tak lupa rasa risolnya juga mempengaruhi.

“Dagingnya saya matangkan dengan menggunakan panci presto. Dicampur dengan bumbu. Kikilnya juga, tapi saya pisahkan memasaknya. Karena daging dan kikil berbeda tingkat keempukannya,” ucapnya.

Dalam sehari, ia mengungkapkan bisa menjual sekitar 50-75 porsi dengan harga Rp12 ribu per porsinya. Karena itu, setiap hari ia harus membuat kuah soto yang baru.

“Sengaja kuah soto saya bikin baru setiap hari agar tetap terasa segar. Tapi kalau beli daging, kikil dan sandung lamurnya, itu seminggu sekali. Saya simpan di freezer, ” ucapnya lagi.

Untuk rasa asam, yang menjadi ciri khas soto, ia mengaku tak pernah menggunakan cuka. Tapi selalu menggunakan jeruk sambal.

“Jeruk yang digunakan juga mempengaruhi rasa. Jadi penting untuk memastikan jeruknya yang mengandung air banyak. Caranya ya dengan memencet jeruk. Kalau lembek, artinya airnya banyak. Kalau keras, biasanya sedikit,” tuturnya.

Luki, salah satu pengunjung yang membeli, menyatakan menyukai soto mie karena kesegaran rasanya.

“Kalau lagi pengen pakai nasi ya pakai nasi. Kalau lagi tidak pengen, makan soto mie saja juga sudah kenyang. Karena menggunakan mie kuning,” ucapnya.

Selain itu, kekhasan soto mie yang menggunakan kikil juga menjadi daya tarik bagi dirinya untuk mengkonsumsi soto mie.

“Patokannya ya di kikilnya. Kalau kikilnya keras, ya saya tidak akan balik lagi untuk beli soto disitu. Tapi disini, kikilnya empuk. Kuahnya juga terasa pala-nya tapi tidak sampai terasa pahit. Pokoknya pas,” pungkasnya.(Trp/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here