Pasien Kanker Payudara Kurangi Nyeri dengan Terapi Radiasi

0
234
Ilustrasi Kanker Payudara (Foto : Istimewa)

Jakarta, X-File.id – Pemberian terapi radiasi pada pasien kanker payudara varian Her 2 Positif dinyatakan mampu menurunkan seperempat risiko kekambuhan atau re-laps jika dibandingkan dengan pasien yang tidak mendapatkan terapi radiasi.

Kanker payudara merupakan sel di dalam jaringan payudara yang membelah diri secara tidak normal dan bersifat agresif yang ditandai dengan adanya benjolan.

Menurut data GLOBOCAN 2018, kanker payudara termasuk dalam lima jenis kanker dengan insiden dan kematian tertinggi di dunia. Di Indonesia, terdapat 348.809 orang penderita kanker baru dalam satu tahun, dengan rincian adalah kanker payudara 58.000 kasus, kanker leher rahim 32.000, kanker paru 30.000, kanker usus besar 30.000. Dan tercatat 207.000 kematian akibat kanker. Angka kematian akibat kanker payudara mencapai 22.692.

Denny Handoyo Kirana, Sp.Onk Rad menyebutkan pengobatan utama dari kanker payudara adalah pembedahan.

“Setelah dilakukan pembedahan untuk mengangkat tumornya, baru diikuti dengan kemoterapi, pemberian trastuzumab dan radiasi. Fungsinya adalah untuk menurunkan potensi re-laps,” kata Denny saat menemui media usai acara diskusi publik terkait Kanker Payudara Her 2 Positif di Ruang Serbaguna Perpustakaan Nasional Jakarta, Selasa (26/10).

Denny menyebutkan seorang pasien kanker payudara dinyatakan membutuhkan radiasi jika memiliki beberapa kriteria sesuai hasil patologi.

“Ukuran sel tumornya harus lebih besar dari dua centimeter dan jika pasien itu hanya mengalami pengangkatan tumor saja,  bukan payudaranya secara keseluruhan,” ucap Denny.

Tindakan pengangkatan tumor saja ini, menurutnya, risiko re-laps lebih besar dibandingkan pengangkatan secara keseluruhan.

Denny Handoyo Kirana, Sp.Onk Rad saat memberikan keterangan kepada jurnalis (Foto : Jus)

“Kriteria kedua adalah dilihat dari grade nya atau derajat keganasan. Jika grade dua atau lebih maka akan dilakukan radiasi. Atau jika dilihat ada keterlibatan kelenjar getah bening. Ini harus diradiasi,” tutur Denny.

Pada pasien Her 2 Positif yang tidak diberikan trastuzumab, tindakan radiasi akan dilakukan dalam tingkat yang lebih tinggi.

“Kalau mendapat terapi trastuzumab, dianggap bahwa Her 2 nya itu dibawah ambang batas. Maksudnya terkontrol,” ujar Denny.

Tindakan radiasi pada saat sekarang, jauh lebih sedikit jika dibandingkan pada masa lalu.

“Dulu itu butuh 20 hingga 25 kalo radiasi. Kalau sekarang sekitar 15 atau 16 kali saja,” ucap Denny.

Radiasi di Indonesia bisa dilakukan dengan mesin berbasis Cobalt 60 atau mesin linear akselerator yang berbasis tegangan listrik.

“Kalau di kota besar biasanya menggunakan linear akselerator. Yang menggunakan pancaran sinar foton yang mampu menembus hingga DNA. Prosesnya juga tidak lama, hanya 4-6 menit,” urai Denny.

Radiasi bisa dilakukan sekali sehari dengan jarak antara radiasi minimal 24 jam.

“Efek samping dari radiasi bergantung pada posisi tunornya. Misalnya, perubahan warna kulit pada kasus tumor yang menempel pada kulit. Tapi kalau jarak dari tumor ke kulit itu lebih dari lima senti, biasanya tidak akan ada perubahan warna kulit,” pungkas Denny.(Bdy/Red)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here