Pendidikan Beracun Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak

0
354
Ditengah masa Pandemi, anak Indonesia tetap harus merasakan kebahagiaan dan kegembiraan. (Foto : Istimewa)

Surabaya, X-File.id – Tanpa disadari, orang tua memberikan pendidikan beracun kepada anak-anaknya. Pendidikan ini walaupun tidak terlihat mempengaruhi pada saat usia kecil, tapi memiliki pengaruh yang besar saat anak remaja.

Pakar parenting Dhuha Hadiansyah menyatakan setiap pola asuh atau pendidikan yang dilakukan dengan cara mengekang kehendak anak dan mempromosikan anak sebagai objek yang patuh dengan cara pemakaian secara langsung, samar-samar, manipulasi dan menyakiti perasaan adalah konsep pendidikan beracun.

“Kecenderungan orang tua untuk mendominasi anak biasanya disalahkan terjemahkan sebagai cinta orang tua. Suatu wujud pembenaran bentuk pengendalian, penentu dan pengekangan kehendak anak,” kata Dhuha saat zoom webinar, Minggu (17/5).

Tindakan ini, menurutnya, biasa dilakukan oleh orang tua tanpa menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah suatu bentuk pendidikan beracun.

“Membuat anak bertanggung jawab terhadap tugas, impian dan kebahagiaan. Terutama hal ini terjadi pada anak pertama,” urainya.

Contohnya, jika seorang anak lahir, yang pertama disebutkan adalah nanti jadi penjaga orang tua. Atau disebutkan, sebagai penerus cita-cita orangtua.

Tindakan lainnya yang juga merupakan pendidikan beracun adalah mengendalikan anak dengan uang dan rasa bersalah.

“Melibatkan anak dalam konflik pernikahan dan menjadikan anak sebagai pasangan semu akibat tidak harmonisnya hubungan orangtua juga merupakan tindakan pendidikan beracun,” urai Dhuha.

Akibat menerima pendidikan beracun ini, cepat atau lambat, anak akan menerima dampaknya.

“Dampaknya bisa berupa masalah psikologis, seperti kecemasan, ketidakpercayaan diri, perfeksionisme, sulit bahagia, tidak mampu mengontrol emosi, tidak bisa mengungkapkan perasaan, kekosongan batin maupun keras kepala,” ujarnya.

Dampak lainnya adalah masalah perilaku, yang bisa menjadikan anak sebagai pelaku atau korban segala jenis kekerasan, pecandu, kesulitan menjalin hubungan maupun pelanggar aturan.

“Yang terburuk adalah jika dampaknya menyebabkan gangguan mental pada anak,” tandasnya.

Untuk menghindari hal ini, Dhuha menyatakan orangtua harus belajar menjadi orangtua.

“Kalau dulu orang bilang tak ada sekolah untuk menjadi orang tua, itu salah. Sekarang ada sekolahnya. Disana orangtua akan belajar tentang bagaimana merencanakan suatu pernikahan dan keluarga harmonis dan merencanakan kehadiran anak. Sehingga, anak akan terbentuk secara sehat jiwa dan fisik, mulai dari sebelum pernikahan,” paparnya.

Dan yang paling penting, orang tua harus menyadari bahwa anak akan terbentuk dalam sistem yang disusun oleh orang tua dalam sistem keluarga.

“Orang tua harus menyadari bahwa anak adalah tanggung jawab mereka sepenuhnya. Bukan tanggung jawab guru apalagi lingkungan,” ucap Dhuha lagi.

Dan yang paling utama, tidak boleh ada penyangkalan dalam diri orang tua bahwa sebenarnya mereka lah yang sepenuhnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan dilakukan oleh anaknya.

“Jadi kalau ada anak bermasalah, jangan hanya anaknya yang mendapatkan terapi atau perhatian. Yang utama dibenahi itu  adalah orang tuanya, sebagai pengelola sistem dan sistemnya, yaitu keluarga,” pungkasnya.(Dmr/Red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here