Perhatian Khusus Bagi Anak yang Lahir Tanpa Perencanaan

0
289
Anak yang dilahirkan tanpa perencanaan biasanya akan mengakibatkan potensi anak tidak terlalu dicintai atau diabaikan (Foto : Istimewa)

Surabaya, X-File.id – Anak yang dilahirkan tanpa perencanaan biasanya akan mengakibatkan potensi anak tidak terlalu dicintai atau diabaikan. Hal ini tanpa disadari menjadikan anak memiliki perilaku yang dianggap tidak baik bahkan cenderung memiliki sifat yang tidak terkontrol.

Tiar Yuliani, salah seorang peserta webinar, mengungkapkan bahwa dirinya seringkali menemukan kasus anak yang berperilaku berbeda dari anak lain.

“Ada beberapa kasus, anak yang menjadi depresi karena tekanan atau tuntutan baik dari keluarga maupun dari orang tuanya. Anak ini cenderung lebih mudah emosi maupun cenderung melakukan tindakan yang disebut nakal,” kata Tiar saat zoom webinar, Minggu (17/5).

Dalam kasus lain, ada anak yang menjadi sangat pendiam dan sensitif.

“Ternyata setelah ditelusuri, ternyata anak-anak tersebut termasuk dalam golongan anak yang lahir tanpa perencanaan,” ujarnya lebih lanjut.

Pakar Parenting Dhuha Hadiansyah menyebutkan sedikitnya ada enam kategori anak yang lahir tanpa perencanaan dan secara persentase, jumlah anak yang tanpa perencanaan ini mencapai 60 persen dari seluruh jumlah anak.

“Yang pertama adalah anak hasil pernikahan yang menikah karena sang perempuan sudah hamil duluan. Lalu anak yang lahir, saat orang tua belum menginginkan anak atau umumnya disebut kebobolan,” kata Dhuha.

Lalu, anak yang terlahir tapi salah satu orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya, jenis kelamin anak tidak sesuai dengan keinginan orang tua dan tampilan fisik anak yang berbeda dengan harapan orang tua.

“Saat ini terjadi, mayoritas anak akan mengalami pengabaian dari orang tuanya. Pengabaian ini merupakan tindakan berlawanan dari cinta,” ujarnya lebih lanjut.

Pengabaian ini biasanya akan mendorong perilaku mencari perhatian oleh anak. Yang cenderung disebut nakal oleh masyarakat.

“Perlu ditekankan bahwa perilaku anak yang seperti itu merupakan acting out dari masalah yang ada di keluarganya. Pengaruhnya pada anak adalah tidak menerima diri dan kurang disiplin, yang mengakibatkan jiwa anak kosong,” papar Dhuha lebih lanjut.

Jiwa yang kosong ini, lanjutnya, berpotensi untuk terisi oleh perasaan-perasaan yang berlebihan.

“Misalnya amarah yang meledak-ledak. Jika berlebihan dalam hal seksual bisa menjadi pecandu seks atau memiliki kelainan seksual. Atau menganut hidup bebas, seperti perilaku gay, narkoba maupun free sex,” ucapnya.

Untuk menghindari hal ini, orang tua harus bisa menerima kondisi anak apa adanya.

“Dan jangan diungkit-ungkit lagi keberadaan diri anak. Misalnya, karena kebobolan, ya jangan disebut-sebut lagi. Baik oleh orang tua maupun oleh keluarga besar,” urainya.

Dan yang paling penting adalah memperlakukan semua anak dengan tindakan yang sama dan sesuai dengan kebutuhan anak.

“Misalnya, jika memang anaknya laki-laki, padahal pengennya anak perempuan, ya jangan disebut terus. Apalagi sampai memperlakukan anak tersebut seperti anak perempuan,” pungkasnya.(Dmr/Red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here