Periklindo Dukung Pembangunan Industri Transportasi Berbasis Listrik

450
Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia
Jaminan keamanan dan kenyamanan pesepeda, lanjutnya, sudah ditetapkan dalam Undang Undang No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya.(Photo : SC)

Malang, X-File.id – Perubahan pemikiran tentang masa depan Bumi, sedikit banyak memberikan dorongan pada perkembangan teknologi listrik di semua sektor. Termasuk pada industri transportasi baik kendaraan listrik hingga industri sepeda.

Ketua Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo) Eko Wibowo Utomo meyakini bahwa industri kendaraan listrik di Indonesia berjalan beriringan dengan mobilitas penduduk dunia dan pembangunan berkelanjutan.

“Kami akan gabung dengan berbagai komunitas ataupun asosiasi kendaraan berbasis tenaga listrik. Karena seluruh dunia saat ini mengarah pada penggunaan transportasi berbasis listrik,” kata Eko Wibowo saat dihubungi, Selasa (22/6/2021).

Hal ini dilakukan karena kendaraan listrik menerapkan teknologi ramah lingkungan. Baterainya dari litium-ion, digadang-gadang bakal menjadi jalur menuju masa depan yang hijau dan bebas karbon.

“Para anggota Apsindo nantinya mengarah pada sepeda listrik, tapi bukan motor. Sementara ini, produsen sepeda masih menggunakan manual, secara perlahan akan mengarah pada sepeda listrik. Perbedaan sepeda dan motor, kalau motor tidak ada pedal. Sebaliknya, sepeda dikayuh dengan pedal,” tutur Eko.

Ia juga mengungkapkan bahwa ada beberapa anggota Apsindo yang sudah mulai menjual sepeda listrik.

“Anggota Apsindo yang sudah jual sepeda listrik baru sekitar 20 persen, belum banyak. Pengubahan ke sepeda listrik kan menyangkut banyak hal terutama teknologi, misalkan baterai, komponen atau spare part. Selain itu, kami juga harus kejar harga barang sehingga bisa jual lebih murah,” ucapnya.

Untuk menjamin keselamatan para pengguna sepeda ini, Eko mengungkapkan hal yang paling penting adalah jaminan dari pemerintah.

“Yang esensial itu kan kenyamanan dan keamanan pesepeda. Terlepas dari pro dan kontra, pemerintah harus menjamin pesepeda aman dan nyaman selama beraktivitas, baik rekreasi ataupun menuju tempat kerja. Jadi, jalur sepeda harus tetap ada, apakah dengan pembatas baik yang permanen atau semi permanen. Atau cara lain, yang penting kenyamanan dan keamanan pesepeda terjamin,” kata sosok pria yang menjabat sebagai Direksi PT Integrita Global Sertifikat (IGS) di Serpong, Tangsel Banten.

Jaminan keamanan dan kenyamanan pesepeda, lanjutnya, sudah ditetapkan dalam Undang Undang No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. Sepeda merupakan bagian dari alat transportasi dan pesepeda punya hak untuk menggunakan ruas jalan.

“Kalau sekarang, tidak ada jaminan keselamatan dan kenyamanan untuk pesepeda. Tidak ada jalur yang pasti. Jalur sudah dibuat tapi terjadi pertentangan. Kalau sekedar pembatas, perlu dibicarakan konstruksi beton pembatasnya. Atau ada solusi lain untuk jaminan keamanan dan kenyamanan pesepeda,” tandasnya.

Dari Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Achmad Rofiq menyatakan PERIKLINDO masih terus membangun koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Kami terbuka untuk duduk bersama dengan berbagai pemangku kepentingan. Termasuk dengan Apsindo dan komunitas sepeda listrik,” kata Rofiq, secara terpisah.

Ia menyatakan sangat mendukung langkah pemerintah dalam mencapai percepatan industri kendaraan listrik.

“Kami mendukung elektrifikasi kendaraan penumpang, kendaraan pribadi dan kendaraan jenis tranportasi masal. Karena arah kedepannya memang transportasi berbasis listrik ini lebih mengarah pada yang sifatnya massal,” ucapnya.

Tapi ia menegaskan bahwa pembangunan industri transportasi berbasis listrik ini harus sejalan dengan pembangunan industri baterai.

“Harus ada baterai untuk EV (electric vehicle) yang efisien dan harga terjangkau. Kan ada dua negara yang bermain, China dan Korea. Sementara Indonesia memiliki sumber daya bahan baku baterai yaitu nikel. Jadi bagaimana caranya investor masuk dan membuat baterai disini,” ucapnya lagi.

Selain itu, Rofiq juga menyebutkan perlunya penghitungan tepat dalam hal produksi.

“Harus akurat. Sehingga industri EV menjadi ekonomis. Termasuk juga masalah spare part,” pungkasnya.(Pop/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here