Perpendek Respon Pengidap Suspek COVID 19, Kemenkes Lakukan Ini

0
328
Petugas Laboratorium tengah memperlihatkan contoh darah seseorang yang terkena Virus Corona (Foto : Istimewa)

Jakarta, X-File.id – Protokol pemeriksaan pada suspek COVID-19 dan yang dinyatakan positif, menurut Kementerian Kesehatan sudah dikeluarkan sejak awal kasus ini muncul. Sehingga, pemerintah menyatakan sudah mempersiapkan beberapa skenario, jika ditemukan kasus COVID-19 di wilayah Indonesia.

Setditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Achmad Yurianto menyatakan bahwa ada tiga rumah sakit rujukan nasional.

“RS Sulianti Saroso,¬† RSPAD Gatot Subroto dan RS Persahabatan merupakan rumah sakit yang memiliki standar sarana dan prasarana yang maksimal. Sekaligus, memiliki kemampuan untuk melakukan outreach. Outreach ini adalah kemampuan untuk membantu rumah sakit yang dibawahnya tanpa mengurangi kapasitas pelayanannya,” kata Yuri saat menemui awak media di Gedung Sujudi Kemenkes Jakarta, Rabu (4/3).

Sejauh ini, sudah ada dua tim outreach yang berasal dari rumah sakit rujukan yang tersebut diatas.

“Yang pertama, yaitu dari Sulianti Saroso untuk memback up 188 di Sebaru dan satu lagi dari RS Persahabatan untuk memback up 69 yang ada di rumah sakit. Ada satu tim lagi, dari Surabaya, tim parsiil yang membantu memperkuat KRI Suharso,” ujarnya.

Tapi, Yuri menyebutkan bahwa selain tiga rumah sakit rujukan nasional ini, ada juga rumah sakit lainnya yang memiliki kemampuan untuk melayani kebutuhan akan perawatan COVID-19.

“Ada rumah sakit yang secara sarana dan prasarana mampu tapi mereka tidak bisa outreach. Kalau mereka outreach, maka mereka tidak mampu melakukan pelayanan secara sempurna,” ucapnya.

Dan ada juga rumah sakit, yang memiliki sebagian dari sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

“Misalnya, ada rumah sakit yang hanya mampu melakukan isolasi saja, tapi tidak punya ventilator. Ada yang punya ventilator tapi tidak cukup ruang untuk isolasi. Jika memang membutuhkan ventilator, artinya kita rujuk ke rumah sakit rujukan nasional,” ujarnya lagi.

Artinya, Yuri menegaskan bahwa tidak semua pasien suspek COVID-19 atau positif harus dibawa ke Jakarta.

“Kalau memang masih bisa dirawat di rumah sakit terdekat, ya tidak perlu ke Jakarta. Dan pengecekan virus pun sudah bisa di daerah,” tandasnya.

Untuk tempat pengujian spesimen virus, Yuri menyatakan sudah dilakukan pendistribusian lokusnya  ke seluruh Balai Teknologi Kesehatan Lingkungan (BTKL) dan Balai Besar Teknologi Kesehatan Lingkungan (BBTKL).

“Untuk BBTKL, yaitu yang memiliki fasilitas laboratorium virologi dengan kualifikasi memiliki Box Biosafety Level 2,¬† adalah Banjarbaru, Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya,” urainya.

Sementara untuk BTKL berlokasi di Medan, Batam, Palembang, Makassar, Manado dan Ambon.

“Petugasnya sudah dilatih oleh Litbang untuk melakukan pemeriksaan dengan metode VCR saja. Mereka sudah mampu melaksanakan dan memiliki alat yang. Tapi supervisor tetap dari Litbang dan stempel tetap dari Litbangkes,” ujarnya.

Hal ini bertujuan untuk memperpendek respon untuk memberikan hasil kepada pasien.

“Tapi tetap yang harus dipahami masyarakat adalah mencegah terpaparnya COVID-19. Tidak perlu melakukan tes kesehatan bagi yang tidak menunjukkan gejala. Karena pengecekan itu bukan untuk menentukan pengobatan tapi lebih kepada mencegah penyebaran,” pungkasnya.(Lhy/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here