Rohadi Optimis, Hakim MA dapat Memberikan Keputusan Seadil-adilnya

0
670
Rohadi, terpidana kasus suap hakim pedangdut Saipul Jamil di PN Tipikor Jakarta Pusat (Foto : Bareck)

Jakarta, X-File.id – Dalam sidang keempat Pengajuan PK dari terpidana Rohadi dengan agenda mendengarkan sanggahan atau kontra memori dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menunjukkan sinyal bahwa permohonan terpidana Rohadi untuk perubahan pasal dapat dipenuhi oleh majelis hakim.

Pengacara Mohammad Shaleh Gawi menyatakan dengan memberikan tanggapan kontra memori dalam bentuk tertulis, JPU seolah-olah memaklumi pengajuan PK.

“Kontra memori ini berfungsi sebagai penangkal memori pengajuan PK. Tapi di sidang ini hanya diberikan tertulis. Dan kemarin juga tidak memberikan sanggahan. Seakan-akan, JPU KPK memaklumi bahwa hakim khilaf dalam memberikan keputusan. JPU KPK juga merasa memberikan tuntutan yang tidak sesuai dengan fakta hukum,” kata Shaleh Gawi saat ditemui usai sidang, Kamis (7/11).

Shaleh Gawi menyatakan dengan adanya sinyalemen ini, kemungkinan besar pengajuan PK oleh tersangka Rohadi akan dipenuhi oleh majelis hakim.

“Majelis hakim berpeluang menerima permohonan PK dari Rohadi, yaitu agar pasal 12 huruf a dikoreksi dan Rohadi mengakui bersalah atas Pasal 11 dimana dia tidak menjadi pelaku utama. Hanya meneruskan suap kepada pihak lain yang memiliki kewenangan dalam memberikan keputusan,” urainya.

Ia menekankan bahwa tidak ada alasan bagi majelis hakim untuk tidak menerima pengajuan PK tersangka Rohadi, karena sebelumnya dalam kasus Tarmizi yang memiliki konstruksi hukum yang sama, sudah memiliki yurispudensi.

“Menurut saya ini sudah 99 persen. Saya menduga, keputusan akan berkisar antara 3,5 tahun hingga 4 tahun. Dan kalau sudah diajukan keputusan pada minggu depan, sudah inkrah. Hanya secara administrasi, risalahnya harus diterima dulu. Waktu kasus Tarmizi, itu hampir dua bulan baru saya terima risalahnya,” tuturnya.

Rohadi yang dimintai tanggapannya, usai sidang, menyatakan harapannya kepada majelis hakim untuk secara objektif menelaah dan meneliti secara seksama terhadap bukti-bukti yang diajukannya.

“Saya berdoa agar keadilan bisa kita raih di bumi tercinta, Republik  Indonesia ini,” kata Rohadi disela isak tangis putranya tercinta.

Isak tangis warnai sidang terpidana Rohadi, saat Mantan Panitera Jakarta Utara ini memeluk putranya (Foto : Bareck)

Rohadi juga menyatakan harapannya kepada majelis hakim untuk bisa mempertimbangkan bukti bukti terutama mopung berdasarkan putusan pada Berthanatalia No 68/Pid.Sus/KPK/2016 putus tanggal  21 November 2016 berbanding keputusan yang diterimanya pada tanggal  8 Desember 2016 No. 77/PID.SUS/KPK/2016.

“Ada inkonsistensi dalam putusan ini. Dimana pada putusan No. 68 dalam halaman 20 dan halaman 24, saksi mahkota Bertha menyatakan bahwa saya adalah penghubung. Jadi bagaimana mungkin saya diputuskan berbeda dengan keputusan sebelumnya yang sudah inkrah. Dimana keputusannya jelas, bahwa saya,  Rohadi adalah sebagai penghubung.  Disisi lain, pada keputusan saya,  dalam rentang waktu satu bulan, saya dinyatakan sebagai pelaku utama,” ujarnya.

Ia juga menyatakan bahwa dengan mempertimbangkan keputusan pada Tarmizi dan juga kesaksian saksi ahli, majelis hakim dapat mengubah dasar putusan dari Pasal 12 huruf a menjadi Pasal 11 yang memberikan ancaman pidana pasal 11, minimal 1 tahun dan maksimal 5 tahun.

“Saya menaruh harapan besar dan percaya pada Mahkamah Agung untuk memberikan keputusan yang seadil-adilnya kepada saya, yang didasarkan pada kesamaan di hadapan hukum. Dan pasti Mahkamah Agung akan melihat bukti-bukti yang saya ajukan,” pungkasnya.(Rsp/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here