Sistem Digital Merupakan Solusi Dalam Konsultasi Hukum Tanpa Resiko

275
Walaupun menurut UU tidak diperbolehkan menjual jasa, para praktisi hukum memanfaatkan digitalisasi sebagai sarana untuk mengedukasi calon klien sehingga tertarik untuk menggunakan jasa mereka. (Photo : Istimewa)

Jambi, X-File.id – Tidak berbeda dengan yang lainnya, dalam masa pandemi pemasaran jasa hukum juga harus memasuki dunia digital. Walaupun menurut UU tidak diperbolehkan menjual jasa, para praktisi hukum memanfaatkan digitalisasi sebagai sarana untuk mengedukasi calon klien sehingga tertarik untuk menggunakan jasa mereka.

Praktisi Hukum Armansyah, SH, MH menyatakan walaupun masa pandemi, persidangan dan pengurusan hukum harus tetap berjalan. Karena mempertimbangkan hak-hak dari kedua belah pihak yang harus bertemu dalam ruang sidang.

“Dalam masa pandemi ini, sejujurnya semakin banyak yang membutuhkan bantuan hukum. Karena banyak dari dunia usaha yang terdampak. Untuk membantu mereka, tentunya penggunaan sistem digital adalah solusi untuk melakukan konsultasi tanpa ada risiko terpapar,” kata Armansyah dalam bincang online strategi bisnis yang diselenggarakan oleh BNPB, Selasa (23/2/2021).

Sebagai contoh, bagi pelaku usaha yang menggunakan kredit perbankan dan mengalami penurunan omset sehingga gagal bayar.

“Mereka ini kan membutuhkan untuk penjadwalan ulang. Dan ini merupakan salah satu yang bisa kami bantu agar bisa selesai,” ujarnya.

Penggunaan teknologi digital, menurut Armansyah, merupakan suatu bentuk inovasi dan adaptasi di tengah masa pandemi ini.

“Jika memang kita tidak bisa mengaplikasikan sendiri teknologi digitalnya, tentunya kolaborasi dengan pihak yang kompeten merupakan solusi,” tuturnya.

Ia menyebutkan saat ini, ia berkolaborasi dengan salah satu konsultan layanan digital untuk dapat membantunya dalam mengedukasi masyarakat terkait hukum.

Walaupun mengedepankan pertemuan online, Armansyah mengakui bahwa ada beberapa hal yang tetap harus dilakukan dengan bertemu luring.

“Kalau memang harus bertemu, artinya harus menerapkan protokol kesehatan. Karena, kita tidak menginginkan baik kita maupun klien terpapar COVID 19,” ujarnya.

Atau, jika persidangan yang harus luring, ia mengatakan protokol kesehatan pun harus tetap dijaga.

“Misalnya, tetap menjaga masker. Walaupun ada beberapa momen yang masker harus dibuka. Di beberapa tempat, malah melakukan swab antigen. Ada juga yang tidak. Jika persidangan dilakukan secara daring, maka barang buktinya akan discan dan dikirim dalam bentuk data,” urainya.

Agar tetap terjaga dari penularan virus COVID 19, Armansyah menyebutkan selalu menjaga kesehatan.

“Jadi protokol kesehatan jalan, menjaga kesehatan dari dalam juga jalan. Makan makanan sehat, minum vitamin, olahraga rutin dan rehat cukup adalah sesuatu hal yang tetap saya jaga. Karena kalau saya sakit atau klien sakit, maka bisnis juga tidak bisa jalan,” pungkasnya.(Rtp/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here