Strategi Bisnis Selama Masa Pandemi

384
Inovasi, adaptasi dan kolaborasi dinyatakan sebagai strategi bisnis paling tepat dalam masa pandemi ini. Tentunya, dengan tetap mengedepankan kesehatan. (Photo : Istimewa)

Padang, X-File.id – Inovasi, adaptasi dan kolaborasi dinyatakan sebagai strategi bisnis paling tepat dalam masa pandemi ini. Tentunya, dengan tetap mengedepankan kesehatan.

Konsultan Digital Valent Mustamin menyatakan selama masa pandemi, 80 persen dari kegiatan yang dilakukannya bersama kliennya sudah dalam bentuk online.

“Dalam upaya menjaga bisnis dari klien, dalam setiap pertemuan kami selalu menyarankan kolaborasi, diversifikasi produk yang sesuai dengan kondisi saat ini serta distribusi dan promosi produk yang tepat sesuai dengan jenis industri atau bisnis yang dimiliki oleh klien,” ungkap Valent dalam bincang bisnis online yang disiarkan BNPB, Selasa (23/2/2021).

Ia menyatakan selama pandemi, ada perubahan orientasi bisnis kliennya.

“Kalau dulu lebih kepada branding, sekarang lebih banyak pada edukasi ke konsumen. Selain itu, ada perubahan juga pada sisi trust,” urainya.

Sehingga, dalam menjaga bisnis di era pandemi ini, ia menyatakan adaptasi dan kemampuan membaca situasi merupakan hal penting.

“Saya mengharapkan pandemi ini cepat berakhir. Karena walaupun banyak hal yang bisa diselesaikan secara online tapi tak bisa dipungkiri bahwa ada hal-hal yang juga harus diselesaikan dengan pertemuan langsung. Sehingga, hybrid adalah solusi saat ini,” ungkapnya.

Senada, Content Creator Imam Priyono menyatakan kreatifitas dan inovasi harus dikembangkan secara terus menerus.

“Dan, harus diakui tidak semua orang memiliki kompetensi dalam bidang digital. Sehingga kolaborasi juga harus menjadi pertimbangan dalam strategi bisnis,” ujarnya.

Ia menyatakan prospek digital masih terbuka lebar dan peluang usaha juga masih menyisakan space yang luas. Dan kondisi ini , mewajibkan setiap pelaku usaha untuk terus belajar.

“Dalam ekosistem digital, semakin banyak profesional yang masuk. Sehingga meningkatkan kualitas konten. Tapi, disisi lain, hal ini menjadikan dunia digital menjadi semakin menantang,” tuturnya.

Sebagai contoh, kalau dulu dalam konten dengan satu kamera bisa memiliki viewer yang lebih banyak dibandingkan konten dengan tiga kamera.

“Tapi kalau sekarang, sense-broadcast sudah meningkat. Sehingga pembuat konten harus lebih kreatif dan profesional. Harus lebih ngulik, karena persaingan akan semakin kompleks. Solusinya, kolaborasi dengan yang memiliki kompetensi,” tandasnya.

Imam menyebutkan jika pandemi berakhir, kemungkinan besar sistem digitalisasi masih akan tetap dipertahankan.

“Untuk hal-hal yang bisa dilakukan online dan dinilai lebih efektif, lebih efisien dan tentunya lebih murah, kenapa tidak?,” pungkasnya.(Dgt/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here