Vaksin Sinovac Memiliki Sisi Keamanan Cukup Tinggi

137
Salah kaprah mengkaitkan keamanan dengan tingkat efikasi vaksin Sinovac dianggap sebagai bentuk ketidakpahaman apa makna efikasi tersebut. Karena tidak ada hubungan langsung antara efikasi dan keamanan.(Foto : Istimewa)

Yogyakarta, X-File.id – Salah kaprah mengkaitkan keamanan dengan tingkat efikasi vaksin Sinovac dianggap sebagai bentuk ketidakpahaman apa makna efikasi tersebut. Karena tidak ada hubungan langsung antara efikasi dan keamanan.

Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Gadjah Mada Prof. Apt. Zullies Ikawati, PhD menjelaskan efikasi adalah kemampuan untuk mencegah kejadian infeksi.

“Efikasi 65 persen adalah kemampuan vaksin untuk mengurangi kejadian infeksi sebesar 65 persen. Gampangnya jika tidak pakai vaksin ada 100 orang akan terinfeksi, maka jika pakai vaksin, yang terinfeksi hanya 35 orang, yang itu berarti menurun sebanyak 65 persen,” kata Zullies saat dihubungi, Jumat (15/1).

Sedangkan keamanan adalah terkait dengan berapa banyak efek samping yang disebabkan oleh vaksin. Semakin sedikit berarti semakin aman.

“Jadi itu tidak ada hubungan langsung. Sangat boleh jadi, suatu vaksin dengan efikasi tinggi, tetapi keamanannya rendah karena banyak menyebabkan efek samping. Atau sebaliknya, efikasinya sedang, tapi keamanannya tinggi,” ucapnya.

Zullies menyatakan vaksin Sinovac, dari sisi keamanan menunjukkan potensi cukup tinggi, yang dibuktikan dari uji klinik yang dilakukan.

“Apalagi dengan platform yang sudah well-established yaitu inactivated virus, sejauh ini keamanannya baik, yang terbukti juga pada jenis vaksin lain yg menggunakan platform sama. Sedangkan vaksin yang lain, walau efikasinya tinggi, keamanannya belum tentu tinggi dan itu perlu dibuktikan dengan uji klinik. Apalagi jika dengan platform yang baru dan belum pernah digunakan di Indonesia, tentu perlu evaluasi yang lebih ketat dan pengawasan dalam pelaksanaannya,” ucapnya lagi.

Penurunan potensi terjadinya infeksi sebesar 65 persen ini dinyatakan sebagai hal yang baik.

“Katakanlah dari 100 juta penduduk Indonesia, jika tanpa vaksinasi ada 8,6 juta¬† yang bisa terinfeksi, maka jika program vaksinasi berhasil hanya ada 3 juta¬† penduduk yang terinfeksi dan ada 5,6 juta kejadian infeksi yang dapat dicegah. Mencegah 5 juta kejadian infeksi tentu sudah sangat bermakna dalam penyediaan fasilitas perawatan kesehatan. Belum lagi secara tidak langsung bisa mencegah penularan lebih jauh bagi orang-orang yang tidak mendapatkan vaksin, yaitu jika dapat mencapai kekebalan komunal atau herd immunity,” tandasnya.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, dalam kesempatan terpisah, menjelaskan kepada masyarakat dunia bahwa vaksin adalah upaya negara dalam melindungi masyarakatnya dari ancaman pandemi Covid-19 dan demi tercapainya kekebalan komunitas atau herd immunity.

“Kami telah menerima rekomendasi dari WHO (World Health Organization), bahwa nilai efikasi di atas 50 persen dapat diterima. Dan kita tahu, jika angka lebih rendah, tentunya orang yang akan divaksinasi akan lebih banyak jumlahnya. Dan itu saya kira adalah tantangan untuk berbagai negara di dunia termasuk Indonesia,” kata Wiku.

Ia menyatakan pemerintah berupaya agara program vaksinasi akan berjalan dengan baik dan juga terus mengikuti hasil uji klinis vaksin Covid-19 di berbagai belahan dunia dengan beragam jenis vaksin. Hal itu demi tercapainya kekebalan komunitas atau herd immunity di Indonesia.

“Untuk hasil uji klinis tahap 3 di Indonesia sendiri, vaksin Sinovac telah lulus dan memiliki Emergency Use of Authorization (EUA) yang dikeluarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” ucapnya.

Dan pemerintah juga melibatkan para pakar dalam proses uji klinis tahap 3 termasuk program vaksinasi.

“Dalam prosesnya, pemerintah juga bersikap transparan dan terus menginformasikan kepada masyarakat tentang perkembangan uji klinis vaksin Covid-19,” pungkasnya.(Pdm/Red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here